Terhenti
Dan ketika itu aku terhenti, tertarik pada sebuah benda ini, aku menyebutnya sepeda onthel begitu pula kebanyakan orang memberi nama benda ini, selain juga ada yang mengatakan sepeda kebo, sepeda onta, sepeda sapi (atau mungkin nama-nama hewan lainnya). Itu tidak terlalu penting untukku. Aku lihat dia sendiri, tanpa tuan, bersandar pada setumpuk daun jagung kering serta sekarung penuh rumput liar.
Jenuh dan merasa tidak bergerak bukan sama sekali lamunan kosong, namun pikiran yang sangat penat menumpuk, memberat, bahkan menyayat. Aku dalam fase itu. kapan tuan datang? atau tuan tak pernah ada? kata tuan, akulah tuan dari jasad bergerak ini, sebentar lagi.
Wangi aroma napas angin sore itu, apa adanya dan yang aku dengar hanya rautan karat penuh keringat. roda masih terhenti, tuan masih pergi, lalu ranting kecil jatuh di kepalaku, aku tersenyum, tergerak pergi.